Pesantren ATQIA Bondowoso kembali mengadakan kegiatan rutin Sholat Burdah, Sholat Hajat, dan ngaji Kitab Nashaihul ‘Ibad yang diikuti oleh para Santri, Asatidz, Wali Murid, Alumni, dan masyarakat umum pada Sabtu [01/08/2026] di Masjid Atqia mulai pukul 17.00 – 20.30 Wib. Selain memperbanyak doa dan ibadah, kegiatan ini menjadi sarana untuk memperdalam ilmu agama sekaligus memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kajian kali ini dibahas nasihat dari Kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani yang mengutip petuah ulama tentang enam perkara yang dapat merusak hati (mufsidātul qalb). Hati yang rusak akan membuat seseorang sulit menerima nasihat, malas beribadah, dan mudah terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak baik.
Perkara pertama adalah sengaja berbuat dosa dengan harapan bisa bertaubat nanti. Sikap seperti ini sangat berbahaya karena membuat seseorang meremehkan dosa. Padahal tidak ada yang tahu kapan kesempatan bertaubat itu masih ada.
Kedua, menuntut ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi harus terlihat dalam perilaku sehari-hari. Santri yang memiliki ilmu seharusnya semakin rajin beribadah, lebih jujur, disiplin, menghormati guru, dan berbuat baik kepada sesama.
Ketiga, beramal tanpa keikhlasan. Amal yang baik akan kehilangan nilainya jika dilakukan hanya untuk dipuji, mencari perhatian, atau mengharapkan keuntungan dunia. Karena itu, setiap ibadah hendaknya diniatkan semata-mata karena Allah SWT.
Keempat, menikmati nikmat Allah tetapi lupa bersyukur. Kesehatan, keluarga, kesempatan belajar, dan rezeki adalah nikmat yang sering dianggap biasa. Padahal semua itu adalah karunia Allah yang patut disyukuri melalui ucapan, ibadah, dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik.
Kelima, tidak ridha terhadap ketentuan Allah. Sering mengeluh, iri kepada orang lain, atau merasa hidup tidak adil akan membuat hati gelisah. Sebaliknya, menerima ketetapan Allah dengan ikhtiar dan tawakal akan menghadirkan ketenangan dalam menjalani kehidupan.
Keenam, mengantar dan menguburkan jenazah tetapi tidak mengambil pelajaran. Kematian adalah pengingat bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah. Seharusnya peristiwa tersebut menjadi motivasi untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Melalui kajian ini, para santri diajak untuk tidak hanya memahami isi kitab, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga hati dari enam perkara tersebut merupakan langkah penting agar ilmu yang dimiliki menjadi berkah, ibadah semakin berkualitas, dan akhlak semakin baik. Semoga kegiatan rutin Sholat Burdah, Sholat Hajat, dan ngaji Kitab Nashaihul ‘Ibad di Pesantren ATQIA Bondowoso terus menjadi sumber ilmu, pembinaan karakter, dan pengingat bagi seluruh santri untuk senantiasa memperbaiki diri serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada penjelasan tentang perkara kedua, KH. Matkur Damiri, M.Si. menegaskan bahwa menuntut ilmu tetapi tidak mengamalkannya adalah perbuatan yang sia-sia. Beliau mengibaratkannya seperti *menanam pohon yang tumbuh subur, tetapi tidak pernah menghasilkan buah*. Pohon memang terlihat besar, namun tidak memberikan manfaat bagi siapa pun. Begitu pula dengan ilmu. Ilmu tidak cukup hanya dipelajari atau dihafalkan, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perbuatan sehari-hari.
Beliau juga mengutip mahfuzat yang sangat dikenal di kalangan pesantren:
اَلْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
“Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.”
Pepatah ini mengingatkan bahwa ilmu akan bernilai apabila diamalkan dalam kehidupan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya, semakin rajin beribadah, jujur dalam perkataan dan perbuatan, disiplin menjalankan tanggung jawab, menghormati guru dan orang tua, serta gemar berbuat baik kepada sesama. Dengan demikian, ilmu yang dipelajari tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi cahaya yang membawa manfaat dan keberkahan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Red. >>>







