Cerpen tentang voli, perasaan, dan dua orang yang perlahan menjadi asing.
Via tidak pernah menyangka bahwa tempat latihan voli yang awalnya hanya menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuannya justru menyimpan cerita yang sulit ia lupakan. Di klub voli itu, ia bertemu dengan seorang cowok bernama Nizam. Mereka berada di klub yang sama dan hampir setiap minggu menjalani latihan bersama.
Sore itu, seperti biasanya, Via datang ke lapangan dengan membawa tas dan botol minumnya. Beberapa anggota klub sudah melakukan pemanasan. Nizam yang sedang mengikat tali sepatunya menoleh ketika melihat Via datang.
“Baru datang?” tanya Nizam.
“Iya, tadi agak lama siap-siapnya,” jawab Via sambil meletakkan tasnya.
Mereka kemudian bergabung dengan teman-teman yang lain untuk melakukan pemanasan. Setelah itu, pelatih membagi mereka menjadi beberapa kelompok untuk berlatih passing, servis, dan smash. Via dan Nizam kebetulan berada dalam kelompok yang sama.
“Via, siap! Bolanya ke sini!” seru Nizam sambil melemparkan bola.
Via mencoba menerima bola tersebut, tetapi arah passing-nya justru melenceng.
“Yah, kurang pas!” keluh Via.
Nizam tertawa kecil. “Coba lagi. Tangannya jangan terlalu tinggi.”
Via mencoba sekali lagi. Kali ini, bola berhasil diarahkan dengan baik.
“Nah, gitu dong!” kata Nizam.
“Apaan, sih. Baru juga sekali berhasil,” jawab Via sambil tertawa.
Latihan sore itu terasa menyenangkan. Mereka terus berlatih bersama, saling mengingatkan ketika melakukan kesalahan, bahkan sesekali bercanda saat salah satu dari mereka gagal menerima bola. Tanpa disadari, kebersamaan sederhana itu membuat Via semakin nyaman berada di dekat Nizam.
Beberapa hari kemudian, klub mereka mengadakan pertandingan sparing melawan klub lain. Nizam terpilih menjadi salah satu pemain yang akan bertanding. Via yang mendengar kabar itu memutuskan datang untuk menonton bersama beberapa temannya.
Dari pinggir lapangan, Via memperhatikan Nizam yang sedang bersiap menghadapi pertandingan. Ketika peluit dibunyikan, permainan pun dimulai. Nizam berusaha memberikan permainan terbaiknya, melakukan passing, menerima servis lawan, hingga melakukan smash untuk mendapatkan poin.
Saat Nizam berhasil mencetak poin, Via ikut bertepuk tangan.
“Ayo, Nizam!” serunya dari pinggir lapangan.
Di tengah pertandingan, Nizam sempat menoleh ke arah penonton. Pandangannya bertemu dengan Via. Ia tersenyum sebentar sebelum kembali fokus pada permainan.
Entah mengapa, senyum singkat itu membuat Via ikut tersenyum sepanjang pertandingan.
Setelah pertandingan selesai, Nizam menghampiri Via yang sedang duduk bersama teman-temannya.
“Gimana? Mainku bagus, nggak?” tanyanya dengan nada bercanda.
“Lumayanlah,” jawab Via.
“Cuma lumayan?”
“Iya, biar kamu nggak sombong.”
Nizam tertawa mendengar jawaban itu. Mereka kemudian mengobrol sebentar sebelum akhirnya pulang.
Waktu terus berjalan, dan latihan bersama menjadi kebiasaan bagi mereka. Sampai suatu hari, giliran Via yang mendapat kesempatan untuk mengikuti sparing melawan klub lain.
Namun, kali ini Via merasa sedikit gugup. Ia takut melakukan kesalahan di depan banyak orang. Ketika sedang melakukan pemanasan, ia melihat seseorang datang dari arah pintu lapangan.
Ternyata Nizam.
“Kamu datang?” tanya Via, sedikit terkejut.
“Iya, emangnya kenapa? Masa kamu sparing aku nggak nonton?”
Via hanya tersenyum kecil.
Sebelum pertandingan dimulai, Nizam menghampirinya sekali lagi.
“Via, jangan terlalu mikirin menang atau kalah. Main aja kayak waktu kita latihan bareng. Kalau salah, coba lagi. Jangan gampang panik.”
Via mengangguk. “Iya, makasih, ya.”
Pertandingan pun dimulai. Via berusaha mengingat semua yang telah dipelajarinya selama latihan. Ia menerima bola, melakukan passing, dan beberapa kali berhasil membantu timnya mendapatkan poin.
Dari pinggir lapangan, Nizam sesekali memberikan semangat. Ketika Via berhasil melakukan smash dengan baik, ia bertepuk tangan sambil tersenyum bangga.
Melihat itu, Via merasa lebih percaya diri. Ia terus berusaha memberikan permainan terbaiknya hingga pertandingan berakhir.
Seusai pertandingan, Nizam menghampirinya.
“Tuh, kan. Aku bilang juga apa? Kamu bisa,” katanya.
Via tertawa kecil. “Iya, deh. Makasih udah datang.”
“Besok latihan lagi, kan?”
“Iya, emang kenapa?”
“Ya, latihan bareng lagi. Masa harus ditanya?”
Via hanya menggeleng sambil tersenyum.
Bagi Via, hari-hari seperti itu terasa sederhana, tetapi diam-diam menjadi kenangan yang berharga. Ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari perasaannya terhadap Nizam. Namun, ia memilih menyimpannya sendiri karena tidak tahu apakah Nizam merasakan hal yang sama.
Sayangnya, waktu perlahan mengubah kebiasaan mereka.
Mereka masih berada di klub yang sama. Masih datang ke lapangan yang sama. Bahkan terkadang masih berlatih dalam kelompok yang sama. Akan tetapi, percakapan yang dulu terasa menyenangkan mulai berkurang. Nizam semakin sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya yang lain, sementara Via memilih fokus pada latihannya.
Tidak ada pertengkaran besar di antara mereka. Tidak ada pula perpisahan yang benar-benar terjadi. Mereka hanya perlahan berhenti menjadi sedekat dahulu.
Suatu sore, setelah latihan selesai, Via duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan teman-temannya membereskan bola. Ia teringat masa-masa ketika dirinya dan Nizam sering berlatih passing bersama, saling menertawakan kesalahan, serta memberikan semangat sebelum pertandingan.
Dulu, Via selalu menantikan latihan karena tahu akan bertemu Nizam. Sekarang, ia tetap datang untuk berlatih, tetapi perasaannya tidak lagi sama.
Ia menatap net yang membentang di tengah lapangan. Net itu masih berdiri di tempat yang sama, memisahkan dua sisi lapangan seperti biasanya. Namun, entah mengapa, Via merasa ada jarak lain yang tidak bisa ia jelaskan.
Nizam pernah menjadi orang yang datang untuk menyemangatinya. Orang yang membuat latihan terasa lebih menyenangkan. Orang yang kehadirannya diam-diam ia tunggu.
Kini, mereka masih bisa saling menyapa, tetapi rasanya berbeda.
Via akhirnya memahami bahwa tidak semua orang yang hadir dalam keseharian kita akan terus berjalan bersama. Ada yang datang untuk menjadi teman latihan, ada yang meninggalkan kenangan, dan ada pula yang perlahan menjadi asing tanpa pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal.
Mungkin, suatu hari nanti, Via akan kembali mengingat semua itu sambil tersenyum. Mengingat bagaimana sebuah bola voli mempertemukannya dengan seseorang yang pernah begitu berarti, meskipun pada akhirnya mereka hanya menjadi dua orang yang pernah dekat.
Sebab, di antara smash dan tatapan, Via pernah menyimpan perasaan yang tak sempat terucap. Dan di lapangan yang sama, ia belajar bahwa tidak semua yang dimulai bersama akan berakhir bersama.
Red: Melvina lutfiah







