Ibu: “Jangan, Nak. Kamu lanjut di dekat sini aja.”
Mendengar itu, Nathalia langsung terdiam dan murung karena keinginannya selama ini tidak disetujui oleh ibunya.
Keesokan harinya, Nathalia pergi ke sekolah. Saat jam istirahat, ia pergi bersama temannya ke kantin untuk makan. Saat sedang makan sambil mengobrol, di sela-sela obrolan mereka, Keira mulai bertanya.
Keira: “Gimana, Nath? Sudah bilang ke ibu kamu? Sebentar lagi jadwal pendaftaran Linyue University bakal dibuka.”
Nathalia: “Sudah. Aku udah bilang ke ibu.”
Keira: “Bagus dong—”
Nathalia: “Nggak bagus.”
Keira: “Lah, kenapa nggak bagus?”
Nathalia: “Aku nggak dibolehin. Disuruh lanjut di sini.”
Keira: “Yahh, kita nggak satu kampus dong.”
Nathalia: “Nggak tahu. Udahlah, cepat habisin makananmu. Nanti bel masuk bunyi.”
Mereka pun menghabiskan makanan mereka dan segera kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.
Saat pelajaran berlangsung, Nathalia sangat memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Bisa dibilang, Nathalia adalah salah satu murid yang pintar dan berprestasi di angkatannya.
Guru: “Nathalia.”
Nathalia: “Oh, iya, Bu. Ada apa?”
Guru: “Nanti setelah pulang sekolah, ke ruang kepala sekolah, ya.”
Nathalia: “Baik, Bu.”
Pelajaran terus berlangsung hingga tidak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi. Nathalia tidak membuang waktu. Ia langsung pergi ke ruang kepala sekolah untuk menemui gurunya.
Saat sedang berjalan menuju ruang kepala sekolah, Nathalia tidak bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh gurunya. Ia hanya terus berjalan hingga sampai di depan pintu ruang kepala sekolah. Nathalia mengetuk pintu tersebut pelan. Kemudian terdengar suara dari dalam ruangan.
Guru: “Silakan masuk.”
Tanpa banyak bicara, Nathalia langsung memasuki ruangan.
Nathalia: “Ada apa, Bu, memanggil saya?”
Guru: “Jadi begini. Kamu adalah salah satu murid paling pintar dan berprestasi di angkatanmu. Saya juga dengar kamu sangat ingin melanjutkan studi di China. Jadi, ada beberapa kampus yang mengajukan beasiswa untuk kamu di China, salah satunya Linyue Academy. Kamu akan mulai berangkat pada tanggal 9 Mei tahun depan jika kamu menerimanya. Jadi, kamu masih punya waktu untuk belajar. Apakah kamu mau menerimanya?”
Nathalia: “Tapi…”
Guru: “Tenang saja. Seluruh biaya akan ditanggung oleh pihak kampus dan transportasi menuju China akan ditanggung sekolah.”
Nathalia sempat ragu, namun ia tetap menerima tawaran itu. Setelah menerima tawaran tersebut, ia langsung pamit untuk pulang. Ia melewati perjalanan dengan rasa yang sangat gembira.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar dan mulai berlatih kembali HSK 1–4 yang telah ia pelajari.
Nathalia: “Lumayan susah, ya. Eumm… aku tadi menerima tawaran dari Ibu Guru, tapi aku belum bilang ke Ibu.”
Setelah mengingat hal itu, Nathalia segera menghampiri ibunya dan mengajak ibunya untuk duduk bersama di ruang tamu.
Nathalia: “Ibu, Natha pengin kuliah di China.”
Ibu: “Natha, kamu se-pengin itu kuliah di China?”
Nathalia: “Iya, Bu.”
Ibu: “Huft… Jangan, Nathaa.”
Nathalia: “Kenapa, Bu? Ibu selalu nggak bolehin Natha buat lanjut studi di China. Please, Bu, kali ini aja.”
Ibu: “Ibu cuma takut kamu nggak terbiasa hidup sendiri di sana. Kamu jauh dari Ibu sama Ayah. Kalau kamu kenapa-kenapa, gimana? Siapa yang bakal jaga kamu?”
Nathalia: “Natha bisa jaga diri dengan baik, Bu. Natha bukan anak kecil lagi.”
Ibu: “Kamu yakin bisa?”
Nathalia: “Iya, Bu.”
Ibu: “Selama ini Ibu lihat kamu belajar dengan sungguh-sungguh. Kalau suatu hari kamu benar-benar siap, mungkin kami juga harus belajar melepaskan.”
Nathalia: “Ibu bolehin aku?”
Ibunya mengangguk sambil tersenyum. Melihat ibunya mengangguk, Nathalia langsung memeluk ibunya dengan bahagia.
Keesokan harinya, saat Nathalia berada di sekolah, ia menceritakan hal-hal yang terjadi kemarin kepada Keira. Mendengar semuanya, Keira sangat senang karena mereka bisa kuliah di universitas yang sama.
Mereka jadi lebih sering belajar dan mempersiapkan berbagai hal bersama-sama. Hingga akhirnya, tibalah H-7 sebelum keberangkatan menuju Kota Beixing di China.
H-7 sebelum keberangkatan. Nathalia mulai membuat daftar barang yang akan dibawa dan mengemas barang-barang nya kedalam koper
Saat sedang memasukan barang ia melihat foto nya bersama ayah dan ibunya di meja. Melihat foto itu ia tersenyum kecil.
Nathalia: “kalau aku sudah berangkat aku akan jauh dari ayah dan ibu”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kamar
Ibu: “Natha, sudah selesai belum beres beres nya?”
Nathalia: “belum bu, masih banyak yang belum di siapin”
Ibunya langsung masuk dan membantu merapikan barang-barang yang akan dibawa. Sambil menatap koper yang sudah mulai penuh.
Ibu: “kamu yakin mau pergi sejauh ini?”
Nathalia: “yakin bu, walaupun Natha sedikit takut Natha harus mencoba. Ibu do’ain Natha ya”
Ibu: “ibu selalu do’ain kamu nak, inget kalau sudah di sana jangan lupa makan, kalau capek jangan maksain belajar nanti sakit”
Nathalia: “iya bu, tenang aja Natha bakal jaga diri baik baik”
Ibu: “jangan lupa pulang ya”
Nathalia terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca dan langsung memeluk ibunya
Nathalia: “iya bu, Natha pasti pulang kok. Do’sin Natha sukses ya bu”
Hari-hari berikutnya berlalu begitu cepat. Nathalia dan Keira semakin sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka. Mereka belajar bahasa Mandarin, memeriksa kembali dokumen, menyiapkan barang, dan memastikan semua kebutuhan mereka sudah lengkap.
Hingga akhirnya, hari yang mereka tunggu pun tiba.
Pagi itu, Nathalia berdiri di depan rumahnya dengan koper-koper di sampingnya. Ayah dan ibunya mengantarkannya hingga ke bandara.
Sebelum naik ke mobil, ia menatap rumahnya untuk terakhir kalinya. Rumah yang selama ini menjadi tempatnya bertumbuh, tempatnya belajar, bersedih, tertawa, dan menggapai mimpi.
Kini, untuk pertama kalinya, ia akan meninggalkan rumah itu dan pergi jauh demi menggapai mimpinya.
Namun Nathalia tahu, mau sejauh apa pun ia pergi, rumah akan selalu menjadi tempatnya kembali.
Pesawat yang membawanya menuju negeri impian perlahan meninggalkan landasan. Dari balik jendela, Nathalia memandangi langit yang luas sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar pergi meninggalkan rumah demi mengejar mimpinya. Namun, ia tahu bahwa pergi bukan berarti melupakan tempat dari mana ia berasal.
Karena sejauh apa pun dunia yang ingin ia jelajahi, akan selalu ada satu tempat yang ingin ia datangi kembali.
Rumah.
Dan di antara rumah dan dunia, Nathalia akhirnya mengerti bahwa terkadang, mengejar mimpi bukan tentang meninggalkan rumah, melainkan membawa doa dan restu mereka bersamanya.
Red. Khodijah Adzkia Madzkur







