Pada tahun 2026 ini, cara kita mencari informasi telah berubah drastis. Dari yang awalnya mengharuskan kita untuk membuka buku dan menelusuri berbagai referensi, kini berubah menjadi lebih mudah. Kita hanya perlu mengetik soal atau pertanyaan, kemudian jawaban akan langsung muncul dalam hitungan detik melalui teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Kemudahan ini memang luar biasa, namun di tengah kemudahan yang luar biasa ini muncullah pertanyaan yang sangat penting: Apa pentingnya membaca di era AI?
AI memberikan jawaban cepat, buku memberikan kedalaman
Tidak bisa dipungkiri, AI memang sangat membantu dalam merangkum informasi, menjawab berbagai macam soal bahkan menjelaskan konsep yang rumit secara instan. Bagi para siswa, mahasiswa, dan peneliti, tentu saja AI sangat membantu dan hal ini menghemat waktu. Namun, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI, yaitu kedalaman pemahaman informasi.
Buku cetak maupun digital ditulis melalui proses yang panjang: riset, analisis, penyuntingan, dan validasi. Ketika membaca buku, kita tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mendapatkan konteks yang utuh, memahami cara berpikir penulis, mengetahui sudut pandang dan argumentasi yang terstruktur. Sementara AI cenderung memberikan hasil jawaban akhir, sedangkan buku mengajak kita memahami proses berpikir di balik informasi tersebut.
Membaca di era AI: Bukan sekedar kebiasaan, Tapi kebutuhan
Pada era AI, membaca justru memiliki peran yang sangat penting, karena semakin banyak informasi, maka semakin kita membutuhkan kemampuan untuk memilah, memahami, dan membangun sudut pandang dari informasi yang kita dapatkan. Kegiatan membaca dapat melatih fokus, kesabaran, dan daya analisis. Untuk itu, kita perlu meningkatkan kemampuan literasi kita, karena kemampuan literasi sudah menjadi langka di zaman yang serba cepat.
Red. Khodijah Adzkia Madzkur







