NEWS DETAIL

  1. Galery Kegiatan
  2. KH. Hasyim Asy’ari: Teladan Santri Sejati dan Pahlawan Nasional

KH. Hasyim Asy’ari: Teladan Santri Sejati dan Pahlawan Nasional

by | Nov 4, 2025

KH. Hasyim Asy’ari, atau lengkapnya Muhammad Hasyim bin Asy’ari, lahir pada 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur. Ia adalah putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari, pendiri Pesantren Keras, dan Nyai Halimah. Sejak kecil, Hasyim tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental agama, dimana ia belajar Alquran dan ilmu fiqih dari ayah dan kakeknya. Pada usia 15 tahun, ia mulai mengembara menimba ilmu ke berbagai pesantren di Jawa, seperti Wonokoyo di Probolinggo, Langitan di Tuban, dan Kademangan di Bangkalan, Madura. Pada 1891, ia berangkat haji ke Makkah dan belajar dari ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang memperkaya pengetahuannya tentang hadis, tafsir, dan tasawuf.

Pada 1899, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, yang segera berkembang menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia. Di sana, ia mengintegrasikan pendidikan agama dengan ilmu umum seperti matematika, sejarah, dan bahasa Indonesia, untuk mencetak santri yang siap menghadapi dunia modern. Pendekatan inovatif ini menarik ribuan murid dari berbagai daerah, bahkan luar Jawa. Selain itu, ia dikenal sebagai ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, dengan julukan Hadratussyaikh dan Syaikhu al-Masyayikh, karena hafal Kutub at-Tis’ah (sembilan kitab hadis utama). Kehidupannya yang sederhana dan penuh ketekunan membuatnya menjadi teladan bagi generasi santri.

Kontribusi terbesar KH. Hasyim Asy’ari adalah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada 31 Januari 1926, ia bersama ulama seperti KH. Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya, sebagai bentuk perlawanan moderat terhadap kolonialisme Belanda. NU bertujuan menjaga tradisi Islam Aswaja dan mempromosikan toleransi serta nasionalisme. Puncak perjuangannya adalah penerbitan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang menyatakan perlawanan terhadap penjajah sebagai kewajiban jihad bagi umat Islam. Fatwa ini memicu semangat rakyat, terutama dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang mengukuhkan posisinya sebagai pahlawan nasional.

KH. Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 di Jombang akibat hipertensi, setelah mendengar kabar kekalahan di Pertempuran Malang melawan Belanda. Ia meninggalkan warisan abadi melalui Pesantren Tebuireng yang terus berkembang dan NU yang kini menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. Anaknya, KH. Abdurrahman Wahid Hasyim, dan cucunya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga menjadi tokoh nasional berpengaruh. Sebagai pahlawan nasional yang dianugerahi gelar itu pada 1964, KH. Hasyim Asy’ari dikenang sebagai simbol perpaduan agama, pendidikan, dan perjuangan bangsa.

Referensi:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Hasyim_Asy%27ari
2. https://tebuireng.online/biografi-lengkap-kh-m-hasyim-asyari/
3. https://tirto.id/biografi-kh-hasyim-asyari-sang-pahlawan-nasional-pendiri-nu-gRbM

(Red. Arini Hidayati)